Hello ;) Have a nice day.

Diberdayakan oleh Blogger.

Warga Kritik Pembangunan SDN 17 Simatalu
 yang Dinilai Asal Jadi
·         Reporter: Patrisius Sanene - Editor: Ocha Mariadi


SDN 17 Simatalu Filial Limu di Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat, Mentawai


LIMU-Sejumlah warga Dusun Limu Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat Kabupaten Kepulauan Mentawai mengkritik hasil pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SDN 17 Simatalu Filial Limu yang dinilai asal jadi. Hal tersebut terungkap dari laporan beberapa masyarakat yang di Dusun Limu, salah satunya Vincen (34) kepada Mentawaikita.com saat melakukan liputan di daerah tersebut awal Oktober lalu.
“Bangunannya asal jadi, tidak rapi, lantainya tidak rata dan dasarnya juga tidak menggunakan batu, langsung cor pasir,” katanya kepada Mentawaikita.com, Sabtu (5/10/2019).


Vincen mengaku sudah melaporkan hasil pengamatannya kepada Pemerintah Kecamatan Siberut Barat. “Untuk sementara bangunan tersebut tidak dipakai dulu meski sudah selesai, karena memang pihak kontraktornya disuruh oleh camat untuk memperbaiki kembali tetapi tidak datang lagi,” kata Vincen.
Sementara dikonfirmasi secara terpisah, Camat Siberut Barat, Jop Sirirui, membenarkan bahwa pihaknya sudah menerima laporan masyarakat tersebut dan dia telah mengecek ke lapangan dan menemukan laporan tersebut benar, salah satu persoalan pada bangunan tidak menggunakan cor dasar dari batu. “Kita sudah cek ke lapangan setelah menerima laporan dari masyarakat bahwa cor lantai tidak pakai batu dan sudah kita tegur untuk segera diperbaiki,” katanya pada Kamis, (17/10/2019).
Mentawaikita.com yang mengecek pembangunan tersebut di lokasi tampak memang tidak ada aktivitas lagi di lokasi tersebut dan diperoleh laporan dari masyarakat bahwa bangunan tersebut telah selesai dikerjakan.
Meski diklaim pekerjaan pembangunan RKB tersebut telah selesai pada plang, tertulis target penyelesaian pekerjaan pembangunan RKB tersebut baru berakhir 10 November 2019 dimana telah dimulai sejak 10 Juli 2019 atau 120 hari kalender oleh CV. ARS
Dana pembangunan RKB tersebut bersumber dari APBD Mentawai 2019 pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai, serta dalam pengawalan Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Rijal Berisigep, PPTK proyek tersebut mengaku belum mendapat laporan dari lapangan. “Kita belum mendapat laporan tersebut kalau itu memang terjadi kita suruh bongkar dan perbaiki,” kata Rizal pada Rabu, (9/10/2019).
Rizal mengatakan pekerjaan pembangunan RKB SDN 17 Simatalu Filial Limu, Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat tersebut masih lama, dan belum ada Serah Terima Akhir Pekerjaan atau FHO (Final Hand Over-) dan pihaknya berjanji akan mengecek laporan tersebut ke lapangan.
Dengan demikian pada struktur bangunan SDN 17Simatalu ini tidak memenuhi standar pembangunan pada umunya sehingga masyaratak mengritik atas dasar struktur yang yang di buat asal salan tidak memeperhatikan umur jangka panjang bangunan dan dapat di asumsikan sebagai kritik Advocatory yaitu kritik yang mengarahkan pada topik yang di anggap perlu.




  • PENDAHULUAN
Gedung 15 Clerkenwell Close di London.(Dezeen.com)
KOMPAS.com - Dua bangunan di London mendapat predikat buruk, yaitu gedung 15 Clerkenwell Close milik Amin Taha, sebuah hunian vertikal lima lantai yang material bangunannya berupa rangka batu kasar. Bangunan kedua adalah Passivhaus karya Chris Moore, sebuah rumah yang menganut prinsip ramah lingkungan dengan dinding berwarna oranye terang. Kesalahan utama pada kedua bangunan itu yakni tidak bisa menyesuaikan dengan bangunan di sekitarnya. Struktur bangunan yang tampak tidak biasa telah mengundang kritik dari masyarakat luas yang sebagian besar didasarkan pada penampilan bangunan teersebut. Sebagai akibat dari buruknya penilaian terhadap bangunan itu, blok perumahan Taha di Clerkenwell terancam dibongkar. Sementara itu, rumah Moore juga dinobatkan sebagai salah satu bangunan baru terburuk di Inggris. Tidak dapat dimungkiri bahwa kedua bangunan itu terlihat berbeda dan menonjol dari bangunan lain di sekitarnya. Hal ini menjadi masalah bagi sebagian orang yang mengetahuinya karena seharusnya desain bangunan tersebut bisa lebih baik. Perbedaan mencolok yang tampak dari gedung 15 Clerkenwell Close adalah material bangunannya yang terbuat dari batu kasar. Bahkan beberapa di antaranya didatangkan langsung dari lokasi tambang. Hal itu terlihat sangat kontras dengan batu bata bersejarah yang dipasang pada bangunan di sekitarnya. Rumah bernama Passivhaus karya Chris Moore di London.(Dezeen.com) Sementara itu, di rumah Moore, batu bata berwarna oranye terang membuatnya seolah-olah melompat keluar ke jalanan di pinggiran kota yang posisinya di selatan London itu. Namun, orang yang telah menelaah secara fisik dan mendatangi langsung kedua bangunan tersebut akan mengetahui bahwa sebenarnya pembangunan keduanya menggunakan jasa arsitek.


  • PERMASALAHAN
Permasalahan pada dua gedung ini adalah berada pada tidak bisanya bangunan tersebut menyesuaikan dengan bangunan lain disekitarnya, pemakaian material pada bangunan yang sangat kontras dengan bangunan disekitarnya mengundang banyak kritik pedas, material yang digunakan pada bangunan ini adalah batu kasar sedangkan bangunan sekitarnya kebanyakan menggunakan batu bata bersejarah.

  • TANGGAPAN ATAU KRITIK TERHADAP BANGUNAN 
  Salah satu kritikus yang paling vokal yaitu Ann Pembroke dari Clerkenwell Green Preservation Society. Dia mengaku merasa terkejut ketika melihat gedung 15 Clerkenwell Close karena tampak seperti jari yang sakit. 

  Satu orang lagi yang berkomentar adalah pimpinan komite perencanaan di Islington Council yang telah mengikuti isu ini sejak tahun 2017 dan mengatakan bahwa bangunan itu mengerikan. “Desain adalah masalah selera, tetapi saya belum pernah bertemu siapa pun yang mengatakan bahwa itu adalah desain yang tepat," kata orang itu kepada koran lokal.


  • TANGGAPAN PRIBADI
  seharusnya pihak arsitek sudah memikirkan matang matang apa yang akan dibuat dan material apa yang akan digunakan, lebih baik bangunan yang dibuat mengikuti kebudayaan sekitar atau tradisi pada daerah yang akan dibuat bangunan agar terhindar dari masalah. sebaiknya bangunan tersebut dilakuin redesign atau melakukan perubahan material agar masalah yang terjadi dapat diselesaikan.

SOELTAN RYAN RAMADHAN
27316120
4TB05

sumber:


























KULIAH LAPANGAN / STUDI ESKURSI
TIPOLOGI ARSITEKTUR
 SUMIDA RIVER PARK,JEPANG
Nama 
Soeltan Ryan Ramadhan
NPM/KELAS
27316120/3TB05
DOSEN
EDY SUTOMO



PENJELASAN

   Taman Sumida (隅田公園 Sumida kōen) adalah sebuah taman umum di Sumida dan Taitō, Tokyo, Jepang. Bunga Sakura dapat dilihat pada musim semi, dan Festival kembang api Sumidagawa diadakan pada bulan Juli. Terdapat sekitar 700 pohon Sakura di Taman Sumida di kedua sisi Sungai Sumida, dan ditanam oleh Tokugawa Yoshimune. 
   Taman Sumida sendiri terbagi menjadi dua area taman yang dipisah oleh sungai Sumida,taman pertama berada pada Sumida dan taman kedua berada pada Taito.
   Pada Taman Sumida pertama pengunjung kebanyakan berasal dari umur menengah keatas karena pada area taman ini lebih diperuntukan untuk beristirahat,ngobrol dll nya, pada area ini juga terdapat banyak kuil yang diperuntukan untuk masyarakat disana untuk berdoa.
   Sedangkan pada taman Sumida yang berada di Taito lebih mencerminkan seperti bagian modern dari taman pertama karena pada taman ini memiliki banyak fasilitas dan kebanyakan pengunjung pada taman di area ini adalah dari balita sampai lansia, fasilitas pada taman ini lebih banyak dibanding area yang pertama karena mungkin sasaran pengunjung disana untuk anak anak muda.
   berikut fasilitas pada taman Sumida yang berada di Taito:
  • sport center
  • coffe shop
  • lapangan baseball
  • lapangan tennis
  • taman bermain anak
  • sumida terrace
  • toilet
  • perahu untuk menyebrangi sungai sumida

Tipologi Arsitektur

Tipologi Arsitektur adalah Tipologi dalam arsitektur adalah klasifikasi dalam arsitektur berdasar buang- bentuk, fungsi, dan langgam. Dalam ranah desain, tipe terbentuk secara alami sebagai kesepakatan bersama oleh warga atau komunitas, seringkali tidak diketahui lagi asal- usulnya.
Ruang terbuka hijau (RTH) adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
Tipologi Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah sebagai berikut:
1.     Fisik : RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami, kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman, lapangan olahraga, pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. 
2.     Fungsi : RTH dapat berfungsi ekologis, sosial budaya, estetika, dan ekonomi.
3.  Struktur ruang : RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok, memanjang, tersebar), maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. 
4.     Kepemilikan : RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat.

PENERAPAN TIPOLOGI PADA SUMIDA RIVER PARK

1. Fisik 
      Sumida River Park dikelompokan menjadi Ruang Terbuka Hijau non alami atau binaan karena taman ini merupakan buatan manusia bukan terbuat secara alami.

2. Fungsi
     berikut fungsi dari taman sumida river park:
    a. Tempat berkumpul atau berkomunikasi masyarakat
    b. Tempat berolahraga
    c. Tempat Rekreasi
    d. Tempat Berdoa
    e. Tempat beristirahat
    f. dll

3. Struktur Ruang 
      Ruang Terbuka Hijau memiliki fungsi sebagai paru-paru kota, pengatur iklim, produsen oksigen, penyedia habitat satwa, hingga penyerap polutan media udara, air, dan tanah. Inilah yang menjadikan Sumida Park Distrik Sumida dan Taito sebagai RTH di masing-masing daerhanya.

4. Kepimilikan
      Taman Sumida termasuk kedalam ruang terbuka hijau publik atau dibuka untuk umum.


KESIMPULAN
      Sumida park terbagi menjadi dua area taman yang dipisahkan oleh sungai sumida, pada area taman yang berada diSumida merupakan design taman tradisional jepang dan diperuntukan lebih untuk masyarakat menengah keatas sedangkan pada area taman yang berada di Taito lebih memiliki design lansekap yang modern dan memiliki fasilitas yang lebih banyak dibanding yang satunya,pada area ini kebanyakan pengunjung berasal dari umur balita sampai lansia pun ada.
Perencanaan Kota Hijau sebagai
sebuah Konsep Menarik untuk Megacities
Menghadapi Peningkatan Sosial, Ekonomi,
dan Tantangan Lingkungan.

Abstrak
migrasi besar ke daerah perkotaan menyebabkan pertumbuhan kota yang signifikan
di seluruh dunia, kota yang memiliki jumlah lebih dari 80 juta penduduk disebut MEGACITIES. Karena laju pertumbuhan penduduk yang cepat, banyak di antara kota-kota besar ini kekurangan
sebuah pendekatan struktural dalam perencanaan kota yang berkelanjutan. Isu seperti polusi dan sosial umum dan
Degradasi lingkungan adalah konsekuensinya, yang berdampak pada kesejahteraan penduduk pada umumnya
skala.
 Makalah informatif ini menyarankan sebuah pendekatan baru untuk mengatasi masalah saat ini: Green City Concept. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh berbagai penulis, dikatakan bahwa atap hijau,
dinding hijau, dan ruang hijau dapat menjadi solusi tepat untuk masalah lingkungan di kota-kota besar, sementara di
saat yang sama meningkatkan aspek sosial, klinis, dan psikologis yang positif bagi warga negara. Ekonomi lebih lanjut
Manfaatnya, seperti berkurangnya konsumsi energi untuk bangunan, bertambahnya umur atap, dan badai kota
perlindungan, menawarkan potensi penghematan biaya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, membuat inisiatif penghijauan lebih memungkinkan
di area pasar. Melalui pandangan menyeluruh tentang penghijauan di kota, makalah ini menyajikan beberapa
pengukuran penghijauan Penilaian atas manfaat dan penerapannya juga dilengkapi dengan
mata terus di masa depan
I. Pendahuluan
saya menghadapi populasi dunia yang semakin meningkat bersama dengan migrasi umum Kecenderungan, daerah perkotaan yang besar saat ini dihadapkan dengan masalah yang signifikan. Kota, yang melebihi jumlah delapan juta orang,
juga disebut megacity (Haas & Neumair,2013). Masalah yang harus mereka hadapi adalah
efek samping dari penyediaan habitat yang diperlukan untuk kondisi kehidupan yang layak bagi penghuninya. Dihadapkan dengan meningkatnya imigrasi gelombang dari daerah pedesaan, kebanyakan kota besar tidak mampu menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan dan
kapasitas hidup, terutama di negara berkembang. Jika kota besar tumbuh tidak terorganisir
cara, masalah lingkungan umum adalah membangkitkan yang menjadi semakin mendesak
Kota-kota ini harus menghadapi akumulasi lalu lintas, peningkatan industri, dan energi yang lebih tinggi konsumsi. Polusi adalah konsekuensinya, yang, misalnya, tercermin dalam polutan gas
di udara dan tingkat toksisitas yang lebih tinggi di Indonesia fasilitas air, seperti air tanah dan badai,
tapi juga di dekat sungai atau danau, yang melayani sebagai persediaan air minum.
Masalah lainnya adalah pemanasan perkotaan karena adanya heatreflecting dan menyerap permukaan, sehingga menghasilkan suhu yang lebih tinggi di pusat megacity. Lebih lanjut
Konsekuensi adalah masalah kebisingan, yang ditimbulkan oleh lalu lintas dan dominasi keras dan bahkan permukaan, yang lebih cenderung untuk mencerminkan suara.
Permukaan yang keras dan tidak berpori ini berada Selain itu juga bermasalah dalam menjalin hubungan dengan Badai air hujan, yang bisa menumpuk dan,
Jika terjadi presipitasi berat, berakibat pada banjir yang merusak Makanya lingkungan
degradasi dan polusi adalah sosial dan lingkungan Universitas Maastricht Jurnal Studi Keberlanjutan • 2013 • Vol. Saya, Terbitan 1 beban nomik untuk kota-kota besar. Di tangan satunya,
Hal ini menyebabkan meningkatnya tekanan kesehatan bagi warga dan indisposisi sosial dan psikologis secara umum, yang terlihat dalam bentuknya yang ekstrem
di daerah kumuh Di sisi lain, hal itu mengarah pada konsekuensi seperti konsumsi energi,
penurunan kondisi kesehatan umum warga negara, dan juga kerusakan badai, ilustrasikan secara bersamaan dimensi ekonomi untuk tidak berkelanjutan Perencanaan kota.

LAYANAN
Ada beberapa macam servis yang diberikan dari green city concept ini, seperti:
- Service provided by green roof (atap menggunakan bahan alam)
- Service provided by green wall (dinding menggunakan bahan alam)
-Service provided by green space (layanan yang disediakan pada ruang hijau)

Pada intinya semua layanan diatas memberikan dampak yang sangat baik untuk lingkungan sekitar seperti mengurangi polusi udara,menghemat biaya dalam jangka panjang, perawatan yang mudah, dibanding dengan konsep konsep bangunan lain, konsep seperti Green City inilah yang seharusnya banyak diperkotaan yang jumlah penduduknya semakin meningkat,agar penduduk juga merasa nyaman. 


sumber: http://openjournals.maastrichtuniversity.nl/SustainabilityStudies/article/download/51/35
MATERIAL BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN

Memakai material ramah lingkungan seperti material bekas atau sisa bahan renovasi bangunan juga dapat melahirkan bangunan yang fungsional dan ber-gaya, apapun material bekas jika masih layak digunakan masih dapat digunakan dengan diberi sedikit sentuhan baru, agar menjadi lebih bagus, lebih murah tetapi kuat.

kriteria material ramah lingkungan sebagai berikut:
a. tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
b. dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
c. dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
d. bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
e. bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami


Contoh : Batu,keramik,aluminium,semen,kaca dan baja sebagai bahan baku utama.\

contoh pemanfaatan bahan bangunan ramah lingkungan :

  • GENTENG SEJUK
Genteng semen ijuk adalah genteng beton yang dibuat  dengan  campuran pasir, semen dan ijuk sebagai bahan pengisi.
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan sebagai penutup atap
Spesifikasi Teknis
 Bahan baku 
:
 semen + ijuk + pasir
 Ukuran
:
 38 x 23 1.2 cm
 Berat
:
 2.5 kg/bh
 Beban Lentur 
:
 80 kg/cm2
  • PANEL SERAT TEBU
Pengembangan bahan bangunan dari limbah tebu menjadi papan serat tebu
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Mengurangi pencemaran lingkungan
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan untuk langit-langit dan dinding partisi non-struktural
Spesifikasi Teknis
 Bahan baku
 :
 ampas tebu + semen
 Ukuran
 :
 240 x 60 x 2.5 cm
 Kuat Lentur
 :
 40 – 50 kg/cm2
  • PANEL SEKAM PADI
Salah satu pengembangan bahan bangunan dari limbah sekam padi menjadi Papan Sekam Padi
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Mengurangi pencernaran lingkungan
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan untuk langit-langit dan dinding partisi non-strukutral
Proses Pembuatan
Sekam padi direndam dalam air atau dapat langsung digiling, dicampur dengan semen,dicetak dengan alat manual. Proporsi campuran = 1 semen : 4 sekam padi atau maksimum 20%
  • SAWIT BLOCK
Pengembangan bahan bangunan dari limbah SAWIT menjadi Conblock.
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Mengurangi pencemaran lingkungan
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan untuk dinding partisi non-struktural
Spesifikasi Teknis
 Komposisi camp.
 :
 1 PC : 6 Agregat ( 20% Limbah + 80% Pasir)
 Ukuran
 :
 8 x 20 x 40 cm
 Kuat Lentur
 :
 25 kg – 35 kg / cm2

·      

 

 

Papercrate (kertas bekas sebagai bahan dinding)

Kertas bekas yang dimaksud disini adalah berupa kertas yang mempunyai tekstur kasar seperti kertas Koran atau kardus, yang dihancurkan menjadi semacam bubur kertas dan diolah lagi menjadi bata kertas agar dapat digunakan untuk penggunaan lebih lanjut sebagai material bahan bangunan.

SPESIFIKASI KERTAS BEKAS (PAPERCRATE)
· Mempunyai massa dan berat yang sangat ringan
· Bersifat lembek, sehingga mudah dibentuk
· Cukup kuat dalam menahan gaya vertikal
· Mempunyai bentuk yang ramping, sehingga memudahkan dalam pengemasan dan distribusinya
KELEBIHAN PENERAPAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA DINDING
  • Mampu menyerap panas
  • Meredam suara / kebisingan
  • Tidak mengandung racun
  • Biaya produksi murah
  • Daya kering yang cepat
  • Penggunaan semen yang sedikit.
 Linoleum: Bahan Pelapis Lantai Ramah Lingkungan

Bahannya elastis, tersusun dari material anorganik dan organik. Pilihan warna dan ragam yang banyak memberi keuntungan untuk desain-desain masa kini. Bahan pelapis lantai ini populer di Eropa. Banyak pilihan warna dan desainnya. Produk ini bisa menjadi alternatif bahan untuk lantai rumah kita, lantai area komersial, bahkan rumah sakit karena mudah dipasang, dirawat, dan dibersihkan. Untuk memasangnya hanya butuh permukaan rata seperti lantai semen, lalu diberi perekat khusus. Kalau mau afdol, perekatnya juga pakai  yang  ramah lingkungan.  

            Sebagai bahan lantai, jika tak lagi dibutuhkan, Linoleum   mudah diurai kembali oleh tanah, alias ramah lingkungan. Inilah yang  menjadi salah satu kelebihannya. Standar Eropa yang ketat tentang material ramah lingkungan membuat bahan ini dipergunakan sebagai salah satu alternatif pilihan para desainer. Syarat yang ketat itu bisa dipenuhi oleh bahan pelapis Linoleum ini. Ada satu hal penting juga yang menjadi keunggulan, yaitu daya tahannya terhadap  panas, dan tahan terhadap api lebih baik dari  plastik dan kain.
            Linoleum, bahan yang terbuat dari bahan alami yang terukur dan dihasilkan dari sumber daya yang bisa diperbaharui. Terdapat setidaknya enam bahan utama, linseed oil, rasin, woodfloor, limestone, pigment, jute . Linoleum pada produk lantai terbagi menjadi tiga bentuk produk, yakni marmoleum yang menampilkan motif-motif warna dan corak alami, artoleum yang menampilkan corak kayu, dan Walton yang menghasilkan corak-corak yang memiliki tekstur.

·       

TEMPURUNG KELAPA 

Salah satu bagian pohon kelapa yang pada saat ini belum banyak digunakan adalah tempurung kelapa (batok) kelapa. Tempurung kelapa yang banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional dari sisa pemecahan buah kelapa saat ini sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar. Sebenarnya, tempurung kelapa (atau sisa berupa pecahan-pecahan) dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi bahan yang lebih bermanfaat dibanding hanya sebagai bahan bakar saja. Oleh karena itu melalui rekayasa yang tepat, maka tempurung kelapa dapat dibentuk menjadi mozaik ubin bahan bangunan yang antik, unik, alami dan menarik 
SPESIFIKASI TEMPURUNG KELAPA
  • Mempunyai bentuk asli berupa serat – serat serabut 
  • Cukup empuk dan hangat 
  • Bersifat sedikit tembus pandang sehingga terlihat pengisinya
  • Mampu menyerap panas 
  • Cukup baik untuk aplikasi akustik (menyerap bunyi karena rongga pada serat)
  • Tahan air 
author
Soeltan Ryan Ramadhan
Hello, Saya adalah mahasiswa Arsitektur universitas Gunadarma